Jumat, 04 Oktober 2013

Laporan Praktikum 2_Sitti Azizah Namirah

Praktikum 2
Laporan Mingguan
Ke 2


Nama : Siti Azizah Namirah
NPM : 1006694625
Nama Lembaga : Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip)
Alamat Lembaga : Wisma Kodel, lantai 11, Kuningan, Jakarta Pusat.
Supervisor Sekolah : Bagus Aryo
Supervisor Lembaga :

Program Sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial
FISIP UI
Depok, 2013


Praktikum minggu kedua berlangsung tidak berurutan karena saya izin di hari senin dan selasa tanggal 9-10 September 2013. Pada minggu kedua ini saya menghadiri diskusi panel, membuat rencana kerja, hingga mulai mencari target sasaran. Banyak pengalaman baru yang memang pertama kali baru saya alami dan hal ini membuat saya mengenal lebih banyak tentang lembaga kesejahteraan sosial baik nasional maipun internasional.

Rabu, 11 September 2013. Durasi Praktikum 8 Jam
Hari ini saya dan teman-teman mewakili KerLip untuk datang workshop mengenai penanggulangan bencan ditingkat lokal yang diselenggarakan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency). Pagi ini saya tiba dikantor JICA pukul 09.15 yang berlokasi dibilangan Senayan tepatnya di Sentral Senayan 2. Saat baru datang kami diberikan seminar kit dan melakukan registrasi pendaftaran. Acara dimulai pada pukul 09.30 diawali dengan sambutan dari Bapak Aratsu dari JICA dan Bapak Sugeng dari Indonesia yang diwakili BNPB. Setelah sambutan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan perkenalan antar lembaga. Hal yang cukup mengejutkan saat menghadiri acara ini ialah karena setelah saya perhatikan acara ini adalah diskusi tertutup yang diadakan JICA dan tampaknya lembaga yang diundang adalah lembaga yang pernaha bekerja sama baik dengan JICA. Sebagian organisasi yang hadir adalah dari Jepang dan dari Indonesia seperti; Japan Foundation, FMWW, Enginers without Borders, Wasend, BDSG, dll.
Sekitar pukul 10 dimulai sekmen paparan mengenai pengenalan program tingkat lokal yang dilakukan Jepang di Indonesia. Dimulai dari Wasend-BDSG yang melakukan pertukan pelajar melalui DRR homestay. Terdapat 4 sub program utama yaitu mengajar disekolah, kunjungan ke lembaga terkait penanggulangan bencana, workshop, serta homestay disekitar rumah warga. Wasend sendiri adalah perkumpulan dari mahasiswa Universitas Waseda, Tokyo, Jepang. Sedangkan BDSG (Bandung Disasater Studies Group) adalah perkumpulan mahasiswa ITB. Kedatangan Wasend sendiri ke Indonesia ialah untuk melakukan program DRR didaerah Yogyakarta, dengan penyelenggaranya BDSG. Rencananya tahun depan BDSGlah yang akan mengunjungi Jepang dan penyelenggara programnya adalah Wasend.
Kedua adalah paparan dari Japan Foundation terkait program perjalanan ke Jepang untuk belajar lebih mengenai sistem penanggulangan bencana disana. Program ini berupa pertukaran pemuda dari 41 negara dan salah satunya ialah Indonesia. Untuk dapat mengikuti perjalanan ke Jepang ini sebelumnya terdapat seleksi yang terdiri dari seleksi dokumen dan presentasi. Selanjutnya akan diberi tim terbaik yang telah diberangkatkan ke Jepang awal tahun ini. Salah satunya adalah tim dari KORSA, Bandung yang kebetulan hadir juga pada hari ini. Paparan ini disampaikan oleh Goto Ai, wakil presiden Japan Foundation.
Ketiga adalahpaparan dari Junichi Hibino yang mewakili radio FMYY. Sejarah dari radio FMYY awalnya adalah radio komunitas yang dibentuk pasca gempa di Kobe, Jepang tahun 1995. Tujuan utama dari radio ini ialah manajemen bencana berbasis komunitas melalui radio. Alasan radio FMYY masuk ke Indonesia ialah karena Indonesia dan Jepang memiliki kesamaan dalam hal banyak terdapat radio komunitas dan memiliki banyak bencana alam, dan mereka berharap dengan bekerjasama dengan Indonesia mereka dapat belajar dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Hal-hal yang dilakukan di radio FMYY antara lain ialah promosi pendidikan kebencanaan, memantau aktivitas pemerintah dan LKS, mengabarkan kepada masyarakat terkait kegiatan mitigasi, gawatdarurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi yang terjadi diwilayah mereka maupun wilayah lain. Sementara ini radio FMYY berada di Yogyakarta disekitar Gunung Merapi.
Keempat adalah paparan dari PT Hitachi yang disampaikan oleh Fanfani Urip. Awalnya saya kurang memahami paparan ini karena berkaitan dengan teknologi dan sistem kerja mesin. Inti yang disampaikan oleh Bapak Fanfani ini ialah lambatnya sistem respons bencana yang ada di Indonesia karena memutar dan hanya dapat dikendalikan oleh BNPB sedangkan saat bencana terjadi banyak hal yang bisa terjadi. Selain itu sistem pelaporan respons di Indonesia masih menggunakan teknologi berupa sms, email, sirine, dan broadcast TV. Pada prakteknya hal tersebut memakan waktu sekitar 30 menit atau lebih dan belum tentu menjangkau daerah yang akan terjadi bencana. Oleh karena itu Hitachi memiliki terobosan inovasi dimana hal tersebut dapat terhubung dengan cepat dan siapa saja bisa memberikan peringatan dini jika bencana akan terjadi. Dari yang saya tangkap alat bernama CMS ini seperti server yang saling terhubung mulai dari BNPB, Kominfo, BMVKG, stasiun televisi, hingga TOA masjid dilingkungan masyarakat. Dimana jika salah satu server menekan tombol atau BMVKG menangkap adanya bahaya maka secara otomatis sistem peringatan dini berbunyi di TOA masjid secara otomatis dengan rekaman yang disesuaikan serta memberitahu pihak-pihak terkait yang memiliki CMS. Perbedaannya adalah untuk melaporkan terkait perkembangan terbaru tidak perlu menghubung satu per satu lembaga tetapi cukup kirim melalui server dan akan terbagi keseluruh pihak terkait yang memiliki CMS, selain itu CMS juga akan otomatis akan memberikan peringatan melalui televisi. CMS sendiri menggunakan tenaga surya, dan sudah diujicobakan namun masih dalam proses kerjasama dengan pemerintah Indonesia.
Presentasi sesi 1 pun usai lalu dibuka sesi tanya jawab kepada para pemberi paparan. Mayoritas pertanyaan diberikan untuk PT Hitachi terkait bagaimana tata cara perawatan dan sudah sejauh mana hal tersebut diterapkan di Indonesia. Juga terdapat pertanyaa untuk FMYY terkait programnya selain radio.
Setelah sesi tanya jawab usai paparan kembali dilanjutkan oleh Awalludin perwakilan program kerja sama Palang Merah Jepang dan Palang Merah Indonesia, di Lebak, Banten. Tujuan dari program ini ialah untuk melakukan pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan kemampuan dalam menghadapi dampak dari bencana dan kesehatan. Sasaran dari program ini ialah memperkuat kapabilitas PMI ditingkat komunitas. Pada dasarnya seluruh program dilaksanakan oleh PMI, Palang Merah Jepang hanya bertindak sebagai donor. Tantangan terbesar menurut Bapak Awalludin ialah bagaimana setiap program yang dijalankan bisa berkelanjutan.
Paparan keenam disampaikan oleh Raka Suryandara selaku pelaksana program DRR di Way Ela dan Sarimau, Maluku. Program ini diselenggarakan atas kerjasama URDI (Urban and Regional Development Institute), Mercy Corps, JICA, dan kedutaan besar Jepang untuk Indonesia. Program ini berisi antara lain mengenai penelitian dan analisa kebijakan, pelatihan dan pengembangan kapasitas, serta publikasi dan komunikasi ke masyarakat. Tujuan utama dari program ini ialah mengurangi risiko masyarakat melalui peningkatan kapasitas. Terdapat 3 tahapan dari metode yang diterapkan dalam program. Pertama melalui asesmen kerentanan dan kapasitas secara partisipatif, merencanaka aksi, dan kemudian implementasi. Contoh kegiatan yang dilakukan antara lain ialah sosialisasi kepada stakeholder yang ada dimasyarakat, pelathan untuk pemangku kepentingan ditingkat masyarakat, selanjutnya membangun pusat informasi bencana. Prioritas dari program ini adalah bagaimana masyarakat dapat menyelamatkan dirinya saat bencana terjadi.
Paparan ketujuh disampaikan oleh Tandiono Chen perwakilan dari program pengembangan BNPB dan BPBD, hasil kerjasama dari JICA dan BNPB. Program ini berisi antara lain mengenai pendampingan dari JICA terkait pengembangan teknologi dan pengutamaan keaktivan BPBD, selanjutnya workshop yang diselenggarakan 1-2 kali setiap bulan, pelatihan di Indonesia maupun di Jepang. Hasil dari program ini ialah pertama format data bencana, manual penggunaan format data bencana, rekaman data bencana. Kedua peta bahaya dan risiko dari bencana alam, pelatihan dasar teknologi, pada sat pelatihan juga dibuat peta sejarah bencana, hingga akhirnya terdapat simulasi dan drilling berkala. Tantangan dalam program ini ialah sangat minimnya dana yang dimiliki oleh BPBD tigkat kita, lalu perwakilan yang dikirim untuk pelatihan seringkali berganti sehingga materi yang diberikan kurang berkesinambungan, selanjutnya terbatasnya sumber daya manusia di BPBD kota/kabupaten.
Paparan terakhir disampaikan oleh Ir. Bahagia dari Aceh terkait program kakak asuh antara Banda Aaceh dan Higashimatsushima. Program kakak asuh ini dimulai sejak tahun 2012, latar belakang program ini ialah karakteristik kota yang hampir sama terutama dalam hal bencana sehingga diharapkan kedua kota ini dapat saling belajar dari informasi dan pengalaman yang dimiliki. Kerja sama program ini antara lain berisi mengenai manajemen kota berkelanjutan khususnya dalam pengolahan limbah, manajemen bencana dalam persiapan bencana dan prosedur respons, bisnis komunitas dalam hal ini nelayan, membangun hubungan antara pemerintah dan partisipasi masyarakat. Terdapat 3 tempat yang menjadi objek utama di Aceh yaitu Desa Deah Baro, Desa Deah Glumpang, dan Desa Alue Deah Teungoh. Program ini direncanakan akan berlangsung hingga 2016. Selanjutnya dibuka sesi tanya jawab dan dilanjut dengan istirahat makan siang.
Usai makan siang dilanjutkan dengan diskusi panel yang dimodertaori oleh Risye Dwiyani dan terdiri dari beberapa panelis yaitu Furumoto Kazushi (kedutaan Jepang), Goto Araki Ai (Japan Foundation), Suzuki Tomoji (Engineers without Border), Junichi Hibino (FMYY), Sigit Padmono (BNPB), Saut Sagala (ITB), dan Henny Dwi Vidiarina (MPBI). Inti dari diskusi ini ialah membahas identifikasi tantangan dan penanaman nilai dari hubungan Jepang-Indonesia dalam kerjasma di level lokal manajemen bencana. Kedua apa yang bisa dicapai dari kerjasama internasional khususnya antara Jepang-Indonesia. Terakhir melangkah maju untuk dampak berkelanjutan yang lebih baik melalui ide-ide dan strategi. Setelah itu dibacakan mengenai tantangan dari program yang tadi disampaikan. Tantangan terbesar ialah terkait dana dan keberlanjutan program yang dijalankan. Inti dari diskusi panel ini ialah hal baik bisa dilakukan tanpa harus memiliki dana yang besar dan melakukan optimalisasi sumber daya yang ada. Selanjutnya pertemuan kali ini akan menjadi sebuah Platform yang diberi nama JIDMALL atas saran dari Suzuki Tomoji.
Selanjutnya penutupan oleh Hideki Katayama dari JICA dilanjutkan dengan saling berkenalan dan presentasi dari Wasend terkait materi yang akan disampaikan mereka di sekolah dasar di Yogya. Meteri ini berisi mengenai gejala tsunami dan apa yang harus dilakukan beserta praktik tsunami dengan alat bantu. Materi ini disampaikan dengan bahasa indonesia sehingga sering kali mengundang gelak tawa para partisipan yang hadir. Setelah itu kamipun berpamitan pulang.

Kamis, 12 September 2013. Durasi Praktikum 7 Jam
Hari ini saya pergi ke kantor untuk menyelesai rencana kerja dan kembali mepelajari mengenai organisasional KerLip. Pagi itu saya tiba pukul 09.30 dan pertama kali mengisi presensi diruangan. Setelah itu saya berbincang sebentar dengan Fida terkait progress kami masing-masing dan nampak banyak bahan mengenai seminar kemiskinan yang kemarin dihadiri oleh Aas lalu kamipun membaca sebentar. Setelah itu kami menuju ruangan lain untuk mengerjakan rencana kerja kami masing-masing karena sudah diminta.oleh pihak KerLip.
Rencana kerja saya berisi mengenai program sekolah aman untuk sekolah luar biasa. Rencana kerja tersebut antara lain berisi mengenai pembuatan rencana kontijensi, simulasi evakuasi terintegrasi, pengenalan tas aman bencana, serta workshop disabilitas dan bencana untuk orangtua siswa. Rencana kerja saya berbentuk tabel yang berisi mengenai kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, peniaian, alokasi waktu, dan sember bahan/alat. Format ini diadaptasi dari kurikulum sekolah hal ini dikarenakan target intervensinya adalah sekolah. Selain itu saya juga mengadaptasi dari rencana kerja yang dikirimkan oleh pihak KerLip. Setelah rencana kerja saya selesai lalu sayapun mengirimkannya melalui email untuk perbaikan. Lalu selang beberapa menit saya mendapatkan balasan dan perbaikan yang hars dilakukan, perbaikan antara lain berupa istila-istilah yang harus disesuaikan dengan standar BNPB. Hal itu membuat saya belajar lebih terkait manajemen penanggulangan bencana di Indonesia karena selama ini saya hanya membaca dari banyak bahan dan masih bingung jika harus melakukan implementasi. Dari sini juga saya mempelajari tingkatan manajemen penanggulan bencana, perbedaan rencana mitigasi, kontijensi dan evakuasi. Setelah perbaikan selesai sayapun mengirim kembali hasil perbaikan.
Setelah itu saya istirahat makan dan sholat pada pukul 13.30 hingga 14.30. Setelah itu saya membaca beberapa bahan yang ada diemail terkait progress sekolah aman dan penerapan madrasah percontohan di MAN Insan Cendikia. Setelah itu sayapun berpamitan pulang.

Senin, 16 September 2013. Durasi Praktikum 7 Jam
Hari ini saya tiba di kantor pukul 09.30, saya berencana untuk mencari sekolah sasaran untuk program sekolah aman dan follow up surat terkait audiensi dengan Dirjen Dikmen. KerLip sendiri sedang memiliki program SESSAMA/ Satu Jam Simulasi Evakuasi Serentak untuk Sekolah/Madrasah Aman untuk sekarang program ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu piloting di SMAN 8 Bandung dan SMAN 13 Jakarta serta Festival SESSAMA dalam rangka menyambut hari PRB yang jatuh pada tanggal 9 Oktober.

Saat saya tiba dengan Fida nampak Ka Wahyu yang sedang bekerja, lalu kamipun menyapa dan menegurnya. Setelah itu saya membuka laptop dan mulai mencari daftar SLB yang berada disekitar Jakarta. Dari hasil pencarian melalui mesin pencari saya memilih SLB negeri dan dari seluruh kontak yang saya coba hubungi hanya SLBN 5 yang merespon dan meminta saya untuk datang esok hari pukul 10.00. Sekolah lain yang merespon juga ada SLB-B Pangundiluhur namun belum terhubung langsung dengan Kepala Sekolah. Setelah itu saya kembali menekuni daftar sekolah serta menggali informasi lebih dalam mengenai disabilitas dan bencana. Lalu saya menelpon Dirjen Dikmen Kemendikbud untuk follow up surat terkait permohonan audiensi. Audiensi yang akan dilakukan bertujuan agar Kemendikbud melalui Dirjen Dikmen melakukan sosialisasi atau instruksi ke sekolah-sekolah mengenai SESSAMA dan ajakan untu memantau piloting SMALB KerLip di NTB saat penyelenggaraan hari PRB di Lombok. Saat telpon diangkat ternyata para pegawai administrasi kementerian belum hadir lalu saya kembali menelpon satu jam kemudian
dan baru mendapat kabar bahwa surat tersebut masih di Pak Dirjen dan belum ada keputusan. Setelah itu saya dan Fida istirahat siang untuk sholat dan makan.

Sekitar pukul 13.30 saya kembali masuk keruangan dan kembali mengerjakan persiapan piloting. Kali ini saya mencoba untuk mempelajari LIBRA (Lembar Inspirasi Bagi Ragam Anak), ini adalah salah satu alat KerLip dalam melakukan SESSAMA. Dalam lembar ini berisi mengenai analisa kerentanan, kapasitas, dan bahaya lalu pembuatan peta evakuasi hingga petunjuk evakuasi. Sayapun membaca dengan seksama namun belum paham secara menyeluruh karena belum pernah praktik. Selanjutnya sayapun mencari contoh-contoh rencana kontijensi ataupun video terkait evakuasi dan simulasi, mayoritas hasil pencarian mengenai gempa dan kebakaran.
Usai mencari video dan menyimpan beberapa saya menyetak LIBRA untuk dipelajari lantas pamit pulang oleh Ka Wahyu saat pukul 15.30.

Selasa, 17 September 2013. Durasi Praktikum 12 Jam
Hari ini saya pergi menuju ke SLBN 5 Jakarta yang berlokasi di Slipi, Jakarta Barat. Dengan sedikit tersasar pukul 10 kurang saya tiba dilokasi, ini kali pertama saya mengunjungi SLB dan halaman nampak ramai dan ternyata SLBN 5 ini dicampur dengan SDN Slipi. Saat memasuki sekolah saya langsung menuju ke ruang sekolah yang berada dipojok gedung. Saat mengetuk dan mengucapkan salam nampak kepala sekolah sudah menunggu kedatangan saya. Setelah itu kamipun berbincang terkait program sekolah aman yang akan diujicobakan untuk kelompok berkebutuhan khusus. SLBN 5 sendiri cukup memenuhi kriteria karena dari kelompok disabilitas A,B,C terdapat disini walau tidak banyak. Namum penyelenggaraan piloting terkendala karena sekolah akan direhab total bulan depan sehingga sulit untuk melakukan simulasi. Setelah itu sayapun berpamitan dan kepala sekolah berharap jika ada program setelah Januari mohon SLBN 5 dilibatkan.

Setelah itu saya pergi istirahat dan mencari makan siang sebelum pergi ke kantor Save the Childrens untuk belajar dari rapat kordinasi antar LKS . Saya tiba dikantor Save The Children dibilangan Ragunan pada pukul 15.00. Awalnya saya mengira kantor tersebut berada di graha STK sama dengan Mercy Corps tapi ternyata beberapa gedeung setelah Graha STK satu komplek dengan Child Fund dan Oxfam. Saat memasuki komplek lembaga internasional tersebut saya menukarkan KTP dengan tanda pengenal. Kemudia mencari dimana letak gedung Save the Children, setelah menemukan berada di gedung C sayapun masuk dan langsung menuju keatas. Saat masuk saya disambut oleh Mba Yuni salah satu staf kantor setelah menanyakan saya berasal darimana lalu beliau menunjukan ruangan diatas dimana sudah ada Fida, Diyni dan Bu Yanti. Namun karena ruangan terlalu kecil kamipun pindah diruangan tamu bawah. Setelah itu pertemuan dibuka oleh mba Yanti yang menyampaikan tujuan dikumpulkannya para LKS ini ialah terkait peran LKS yang bergerak dalam pendidikan dalam menyambut hari pengurangan risiko bencana yang jatuh pada tanggal 9 oktober. Lalu beliau menampilkan slide mengenai sekolah aman dan tata cara bagaimana jika ingin membuat pameran ataupun mengisi acara hari PRB yang akan diselenggarakan di Lombok. Setelah itu dilanjutkan dengan acara saling berdiskusi terkait siapa saja yang akan berangkat dan kegiatan apa yang akan dilakukan. Sejauh ini hanya Save The Children yang akan berangkat ke Lombok dan menawarkan diri jika ada lembaga yang ingin menitipkan untuk disampaikan disana. Setelah itu Bu Yanti menjabarkan terkait program YES for Safer School dan banya lembaga yang cukup tertarik, dan Bu Yanti mengajak lembaga-lembaga tersebut untuk melakukan SESSAMA di sekolah binaan masing-masing lembaga. Setelah diskusi acara ditutup dilanjutkan dengan saling berbincang sambil menikmati buah yang disediakan. Usai Bu Yanti berbincang kami pun berpamitan.

Setelah itu kami menuju ke Pasar Festival untuk bertemu dengan Vivi di Baso Karapitan, hal ini bertujuan untuk membahas rencana kerja kami selanjutnya. Sesampainya disana Bu Yanti meminta kami mengcopy petunjuk teknis bantuan pendidikan dari Kasubdit PPKLK, Kemendikbud. Lalu kami berbincang terkait struktur organisasi dan kelembagaan KerLip. KerLip dikepalai oleh Bu Yanti dan dibantu oleh beberapa stafnya. KerLip sendiri tidak memiliki donor yang pasti mayoritas disokong oleh anggota KerLip sendiri dan dari hasil kerjasama dengan lembaga lain. Pada dasarnya KerLip jarang memiliki program sendiri sesuai dengan prinsipnya sinkronisasi kebijakan dan pelembagaan. Sehingga seringkali KerLip masuk kedalam program Kementerian ataupun LKS lainnya. Hasil diskusi rapat kali ini ialah bahwa kami setuju untuk menjadikan SMAN 13 sebagai piloting di Jakarta dan sarana kami belajar lebih jauh. Setelah itu karena hari sudah malam kamipun berpamitan pulang.

Seminggu terakhir ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dan informasi mengenai sistem kerja LKS di Indonesia. Saya juga merasakan tantangan menjadi seorang pekerja sosial yang bekerja di LKS. Harapannya semoga minggu depan saya dapat memahami lebih jauh mengenai sekolah aman dan mendapatkan tempat untuk melaksanakan program.

Tidak ada komentar: