Senin, 09 Juni 2014

Narasi bu Nia Kurniati: INILAH (SEHARUSNYA) POTRET NEGERIKU (bagian 2)……. MeSRA bersama BANDUNG BERCERITA SAAT MEMAKNAI KATA DAN CERITA SERTA BERTUTUR DENGAN NURANI 8 Juni 2014



Meluangkan waktu disela-sela kesibukan sudah menjadi komitmennya. Inilah yang mendorong saya untuk melakukan hal yang sama saat kegiatan pendampingan dalam jejaring. Bukan sekedar melakukan aktivitas semata tetapi lebih kepada konsekwensi dari sebuah pilihan dan menjalankan peran sebagai Agent of Change yang sebenarnya.

Tulisan ini, adalah bagian ke-2 dari Inilah (Seharusnya) Potret Negeriku, catatan tentang rekam jejak para Pembaharu Muda melakukan aktivitasnya, membuat perubahan untuk lingkungan terdekatnya bahkan untuk semesta, khususnya dunia pendidikan dalam “Memanusiakan Manusia Pembelajar”.

Adalah Bandung Bercerita yang digagas Amilia Agustin. Bagi saya, dia tidak hanya seorang anak didik yang masih terus berproses, tetapi telah menjelma menjadi “sahabat” yang tak pernah bosan memberikan kritik dan saran dari hasil pemikirannya. Maka tidaklah berlebihan jika kemudian saya menempatkannya menjadi “inspirator muda” yang berperan sebagai katalis yang dilengkapi indikator, sebagai penentu arah kemana dan seperti apa perubahan itu.

Pengalaman mengikuti aktivitasnya di Bandung Bercerita adalah pengalaman pertama dan saya menempatkan diri sebagai relawan yang bersedia berbagi inspirasi tentang banyak hal. Begitu banyak inspirasi yang telah saya dapatkan dari perjalanan bersama dengannya. Begitu banyak makna dalam setiap kata dan cerita di setiap tutur-nya. Buatku semua tuturnya berdasarkan nalar yang terlahir dari sanubari terdalam…bertutur dengan nurani.

Ijinkan saya menuliskan kembali salahsatu bagian dari aktivitas Bandung Bercerita, tentang pagelaran Wayang Boneka di “Negeri Kotore” sebuah lakon yang mengajak anak-anak usia 9-11 tahun yang duduk di bangku kelas 3 dan 4 SD, memahami dengan cara yang sangat sederhana tentang pentingnya pemilahan sampah, tentang pendidikan berkarakter yang tidak hanya dituliskan dalam “format-format semu” semata. Saya yakin, pelajaran bermakna itu telah terukir kuat dalam sanubari mereka dan akan dibawanya kemanapun dan dimanapun mereka berada…..

…..”Dikisahkan, ada 2 anak kembar Ciki dan Ciko dari Negeri Kotore. dan anak-anak keren Dido dan Tristan Sodikin, dua anak yang “sepertinya bandel” padahal mereka sebenarnya belum paham tentang dampak dari membuang sampah sembarangan. Ada juga domba ganteng dari Negeri Hewan yang bernama “Soun de sip” dari Amerika dan si”Jeje Keren” dari Kanada, ada juga Rau-Rau si Raja hutan Belantara. Mereka (hewan-hewan itu) mengeluh tentang sampah dari negeri kotore termasuk sampah di kota Bandung. Selain itu ada guru-guru yang bernama ibu Naela dan Pa Wandi, sosok guru yang ditampilkan sebagai orang yang menyediakan sumber belajar. Bu Naela menyampaikan tentang jumlah sampah yang dihasilkan dapat menyamai 55x luas candi Borobudur. Sedangkan Pak Wandi menyampaikan penyakit-penyakit apa saja yang disebabkan oleh sampah. Selain itu Pa Wandi juga menyampaikan bagaimana caranya mengolah sampah yang dimulai dari melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Dan tentu saja sosok Amilia Agustin yang tampil utuh, menyampaikan tentang 3R dengan menggunakan tehnik lagu dan gerakan-gerakan tangan, sederhana tapi dengan konsep yang benar, tuturnya “Reduse mengurangi, Reuse pakai lagi, dan Recycle mendaur ulang…hey hey…”.

Yang menarik dari tampilan wayang boneka ini adalah, Ami mampu mengajak anak-anak berinteraksi dan seolah-olah berada dalam lakon yang dia mainkan. Mengajak anak-anak fokus dan mau mendengarkan ceritanya, itulah kekuatannya, tidak seperti yang dilakukan oleh “para guru” pada umumnya (termasuk saya tentu saja). Tanpa banyak “titah” dan “perintah”, anak-anak itu dengan iklhas mau mendengarkan lakon yang dibawakan sampai selesai….sangat mengagumkan….

Tentu saja, tulisan ini tidak mampu mengalahkan kebermaknaan-nya, manakala kita dapat hadir dan melihat prosesnya. Tetapi paling tidak melalui tulisan ini, berharap para pendidik di sekolah formal termasuk saya tentu saja, menyadari apa peran kita sebagai pendidik. Berharap tulisan sederhana ini, mampu membangunkan “tidur kita yang panjang…..” dan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita saat mengajak para siswa berproses dan belajar. Makna dari kegiatan KBM adalah Kegiatan Belajar dan Mengajar, maka sudah seharusnya dalam proses tersebut yang harus berubah adalah proses belajar dan proses mengajar. Saat melihat Amilia Agustin mengajar, saya yakin dia sudah membuat perencanaan yang sangat matang tentang proses yang akan dilakukan saat itu, walaupun tidak dalam bentuk “format-format” yang kaku tapi pasti ada langkah dan pembagian waktu yang sudah diaturnya denngan baik. Saya bersyukur, dapat mengikuti prosesnya dan mendapatkan beribu makna didalamnya.

Saat pengikuti aktivitas Bandung Bercerita, terselip rasa bangga yang luar biasa, melihat anak-anak muda-lulusan SMA yang meluangkan waktu dengan caranya. Buatku, mengajar tidak sekedar berbagi ilmu tetapi juga berbagi asa dan rasa. Tergambar jelas, saat salah satu siswa diminta menyampaikan perasaannya saat berproses bersama. Katanya, “4 jam belajar sepertinya tidak cukup, harus ditambah lagi waktunya, banyakin permainannya. Terimakasih untuk hadiah dan makanannya. Hari ini saya benar-benar senang…. dan gembira…. karena kakak-kakaknya baik-baik semua dan saya jadi tahu tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya”.

Terimakasih, sudah bersedia mengambil “peran” di negeri yang kita cintai, menjadi guru dan mengajar tanpa pamrih. Seperti inilah seharusnya potret negeriku. Terimakasih untuk rasa sayangmu, seperti yang telah kamu tuliskan dalam persembahan buku Mengukir Bintang Kehidupan….”Bu….mungkin buku ini tidak sebanding dengan perjuangan ibu yang begitu besar untuk pendidikan di Indonesia apalagi untuk Ami….Ami sayang ibu seperti judul buku ini. Ayo bu sama-sama Mengukir Bintang Kehidupan, semangat, Love You…!” .

Itulah Amilia Agustin, maka tidaklah berlebihan jika saya pernah menuliskan dalam note sebelumnya, “ ….dalam setiap nafasku, kusertakan doa untukmu dan para penerusmu….” Semoga semua mimpi indah kalian dikabulkan OlehNYA…Amin YRA.

Jumat, 06 Juni 2014

Kejeniusan dilahirkan dari Ke-GeMBIRA-an

Lama tidak menyapa sahabat-sahabat di blog ini. Bukan apap-apa sih....hanya saja berharap dihiasi narasi-narasi asyik dari anak-anak dan kawula muda sahabat KerLiP.

Beberapa narasi dari Koordinator Provinsi untuk Program Penanganan Psikososial Penyintas Anak di SMAN 1 Simpang Empat pasca erupsi gunung SInabung dan agen-agen MeSRA di #SPeAKnACtBandung sudah diterima. Sengaja tidak dipublikasikan dulu untuk disusun menjadi buku safari GeMBIRA bersama KerLiP tahun 2014. Semoga ya....

Alhamdulillah, hari ini FGD Naskah Akademik Ranperda Percepatan Pengembangan KLA Jabar mendapatkan masukan-masukan yang konstruktif dan jejaring baru di UNPAD, UPI, UIN, LPA, BAPAS, Kemhukum dan HAM, Dinkes Jabar, BAPUSIPDA, DInsos dan Polda Jabar, JARI, dan juga BP3AKB Jabar. Ada Ibu Antik Bintari konsultan pendamping BAPPEDA kota Bandung dalam penyusunan perencanaan pro anak, Ibu Safrina dari UPI, Ibu Endah dari UIN, Pak Hamas penyusun Perda No 5 tahun2006 dari LPA, Misran, Diana dari LPA, Eti dari JARI, Bu Yayat dari Polda Jabar, Pak Harun dari Kemhukum dan HAM, dari BAPAS malah lupa namanya.

Pelembagaan Komite Aksi dan Tim Teknis Penghapusan Pekerja terburuk bagi Anak serta Perijinan pengadopsian Anak (PIPA) perlu diperkuat. Ada hal yang menggugah kesadaran lama terkait UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Nampaknya perlu didorong kemungkinan untuk uji materi dengan tetap mengedepankan prinsip kepentingan terbaik anak.

Terimakasih khusus untuk Zamzam, mantan Direktur Litbang KerLiP yang membuatkan bahan presentasi pagi tadi. Ada beberapa kekeliruan tapi secara keseluruhan oke pisan....