Lain halnya yang saya lihat di Thailand. Saat saya mengikuti sesi yang dilakukan oleh Ms. Sasinat Chindapol-Dia adalah seorang Ambassador of Safe Schools/Children and Youth, Thai red Cross Youth. Ternyata kegiatan yang dilakukannya sudah fokus pada kegiatan Penangguangan Resiko Bencana atau PRB. Mereka melibatkan diri secara langsung, baik dalam tahap perbaikan sarana publik, misalnya membersihkan jalan-jalan pasca banjir, ataukah membantu menyediakan makanan di posko dapur umum, maupun dalam penanganan psikososial bagi korban bencana yaitu membantu pemulihan psikis dengan cara mengajak ngobrol dan memberikan harapan hidup saat melakukan kunjungan ke penampungan, semacam kegiatan psikososial yang digagas mereka secara volunteer.
Selain itu, mereka memiliki tiga program kegiatan yang terencana dengan baik dan tentu saja berkesinambungan yaitu:
1. Kegiatan yang dilakukan di sekolah yaitu Sosialisasi dan promosi pengetahuan tentang kebencanaan:
a. Memiliki kurikulum PRB
b. Pelatihan program untuk pertolongan pertama, serta pencarian dan penyelamatannya
c. Melakukan kajian pengetahuan terkini secara berkala.
2. Pengalaman langsung sebagai Youth Volunteers:
a. Magang dalam organisasi kepemudaan dan organisasi yang terkait dengn PRB
b. Partisipasi langsung maupun tidak langsung dalam membantu korban bencana.
c. Belajar secara langsung dari sumbernya terkait dengan PRB.
3. Berbagi informasi melalui FB, Twiter, Instagram, Line, dan kekuatan media sosial lainnya dalam penyebaran informasi yang terkait dengan PRB.
Selain paparan di atas, mereka juga memiliki “Learning Centers for Youth” yaitu semacam tempat belajar untuk melatih dan belajar tentang PRB yang memiliki beberapa keunggulan :
1. Aman
2. Memiliki pelatih yang berkualitas dan siap dengan sumber dayanya
3. Dapat diakses di banyak tempat.
Pengalaman belajar ini sangat luar biasa dan berarti sekali karena saya dapat mengetahui bagaimana mereka melakukan kegiatan yang berkesinambungan. Dengan demikian, saya secara pribadi dapat memperbaiki kekurangan yang selama ini saya rasakan saat mengerjakan sebuah project bersama dengan anak-anak.
Temuan penting yang saya bandingkan adalah youth volunteers yang sudah ada sekarang belum menjadi gerakan miliknya, masih dikerjakan karena ada “perintah” dari pembimbing atau dari sekolah, inisiatif pribadi belum terbangun dengan baik, dan masih memiliki “ego” pribadi yang begitu besar. Selain itu juga para fasilitator-nya belum bisa menahan diri untuk tidak memberitahu apa yang harus dilakukan oleh para youth volunteers sehingga rasa ingin tahu mereka nyaris tidak dapat muncul.
Terimakasih bu Yanti, telah memberi saya kesempatan untuk belajar hal lain. Semoga pengalaman belajar ini dapat memberikan kontribusi yang berarti untuk anak muda di Indonesia. Bahwa melaksanakan sekolah aman dan ramah anak tidak hanya sekedar tercantum dalam dokumen sekolah saja tetapi memang benar-benar dapat diterapkan untuk dilaksanakan sepenuhnya oleh sekolah dan anak-anaklah yang harus mendapatkan manfaat terbesarnya.
Tetap Semangat Melakukan Perubahan.
Nia Kurniati.
Changemakers Teacher Ashoka Indonesia.

