Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2011

Berbincang-Bincang Dengan Ibu Posyandu Dago Jati

Minggu ke 6 dan ke 7 ini pertemuan dengan Ibu Posyandu Dago Jati. Ibu Posyandu yang saya temui adalah Ibu Susi sebagai bendahara di Posyandu Dago Jati. Berikut ini hasil perbincangan dengan Ibu Posyandu Dago Jati.

Ibu Susi sudah cukup lama aktif di Posyandu, sehingga sudah cukup hapal dengan nama-nama warga terutama ibu-ibu Dago Jati, khususnya yang memiliki balita. Menurut Ibu Susi, jumlah balita di Posyandu Sektor 1 Dago Jati ini berjumlah sekitar 75 balita. Diantaranya terdapat sekitar 15 balita berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Jumlah 75 balita ini sudah termasuk jumlah balita dari para mahasiswa yang kuliah sambil membawa anak-anaknya ke tempat kost mereka. Ini pun di data oleh Ibu Susi dengan mendatangi langsung ke rumah-rumah/kost-an mereka. Apabila warga baru atau para mahasiswa ini sudah melakukan kewajibannya yaitu melapor ke RT, maka pasti langsung di data oleh Posyandu. Adapun kalau ada warga baru atau para mahasiswa yang memiliki balita tapi tidak terdata oleh Posyandu, biasanya karena mereka belum lapor ke RT setempat.

Pelayanan yang diberikan di Posyandu diantaranya penimbangan, pengukuran tinggi badan, imuinisasi yang diberikan oleh Dokter yang datang ke Posyandu, serta pemberian makanan bergizi, dan pemberian vitamin pada waktu-waktu tertentu. Adapun biaya untuk pemberian konsumsi makanan bergizi bagi balita-balita didapatkan dari iuran ibu-ibu yang memiliki balita dan sumbangan dari Hotel Sheraton. Setiap ibu-ibu yang memiliki balita dimintai sumbangannya sebesar Rp.1000 perbulannya. Tetapi Ibu-ibu Posyandu pun tidak terlalu memaksakan, sumbangan ini bagi mereka yang berkenan mau menyumbang saja. Bagi yang tidak menyumbang pun tidak apa-apa dan tidak ada paksaan. Iuran ini selain untuk tambahan biaya konsumsi pemberian makanan bergizi para balita, juga untuk konsumsi Dokter yang datang ke Posyandu dan juga untuk para pengurus Posyandu.

Kegiatan Posyandu ini diadakan sebulan sekali, tiap hari Kamis pagi, jam 9:00. Apabila kegiatan Posyandu ini di adakan, Ibu Susi selalu mengumumkannya di masjid, untuk mengingatkan dan mengajak ibu-ibu yang memiliki balita agar datang ke Posyandu. Posyandu di RW 06 tempat tinggal Ibu Susi ini terbagi dalam 3 sektor. RT 1,2,3 sektor I, RT 4,5,6 sektor II, dan RT 7,8,9 sektor III. Sedangkan Posyandu yang dikelola oleh Ibu Susi ini termasuk sektor I, wilayah Dago Jati.

Ibu Susi ini selain pengurus Posyandu, dia juga sekaligus sebagai guru Paud di Dago Jati. Paud tempat Ibu Susi mengajar ini bernama Paud Nirwana. Paud ini juga sudah cukup lama berdiri, sudah sekitar 7 tahunan. Pada awalnya murid-muridnya banyak, sekitar 100 orang murid, tetapi sekarang muridnya hanya tinggal 45 orang saja. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya berdiri paud-paud baru yang hampir selalu ada di setiap RW. Tetapi murid-murid yang sekolah di Paud Nirwana ini justru kebanyakkan malah dari RW lain dan dari kelurahan yang lain. Sedangkan anak-anak penduduk setempatnya yang sekolah di Paud Nirwana ini hanya 5 orang saja. Menurut Ibu Susi hal ini disebabkan karena sebagian warga ada yang belum sekolah walaupun sudah cukup umur untuk mengikuti sekolah di Paud. Adapun umur anak yang sudah bisa mengikuti sekolah di Paud ini menurut ibu Susi mulai usia 2-6 tahun. Sedangkan sebagian warga ada juga yang memilih sekolah lain yang menurut mereka lebih bagus.

Tenaga pengajar di Paud Nirwana saat ini ada 5 orang guru, salah satunya Ibu Susi. Biaya untuk bersekolah di Paud ini untuk biaya pendaftaran sebesar Rp. 315.000, dan untuk SPP bulanannya sebesar Rp.20.000 perbulan. Mengenai pembayaran, Ibu Susi pun memberikan keringanan dapat dibayar dengan cara mencicil. Bahkan untuk warga yang memang sama sekali tidak mampu tetapi sangat ingin menyekolahkan anak-anaknya di Paud ini, Ibu Susi memberikan keringanan membayar semampunya atau kalau memang tidak mampu sama sekali, tidak bayar pun tidak apa-apa.

Di Dago Jati ini terdapat dua sekolah untuk anak usia dini, yaitu Paud Nirwana dan TPA Nurul Fikri. Hanya saja TPA Nurul Fikri ini lebih menekankan pada belajar Iqra. Biaya sekolah ini sebesar Rp. 50.000 perbulan.

Sarana prasarana di Paud Nirwana ini sudah cukup lengkap, sebab ibu-ibu pengelola Paud Nirwana ini tak pernah ketinggalan untuk terus mengikuti perkembangan materi-materi baru pengembangan anak usia dini di Departemen Pendidikan. Serta terus mengajukan proposal sehingga Paud Nirwana ini sudah cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah serta mendapatkan dana untuk melengkapi sarana prasarana yang masih dibutuhkan atau untuk mengganti sarana prasarana yang sudah rusak.

Demikian hasil pertemuan dan perbincangan pertama saya dengan Ibu Posyandu Dago Jati. Semoga langkah kita untuk menjalankan program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) di kawasan Dago Jati ini tidak akan terlalu sulit, sehingga anak-anak kita akan segera mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang layak dari para orang tua dan lingkungannya.

Ditulis oleh: Fira Naya


Sabtu, 25 Juni 2011

KUMPULAN CERITA IBU-IBU DI BOJONG ASIH (BAGIAN 2)

Cerita Bu Pupung (24 tahun):

Semenjak saya tau bahwa saya hamil, saya mulai menjaga makanan yang saya makan, asupan minum obat juga agak dijaga/tidak sembarang minum obat, selainobat yang dikasi bidan. Tapi ketika bulan ramadhan saya bisa berpuasa penuh 1 bulan walau pada waktu itu saya pernah sakit batuk. Terus suka mendengarkan kaset ngaji, mendengarkan musik klasik, membaca buku/majalah tentang kehamilan. Pas usia kandungan 4 bulan mulai merasakan detak jantung si bayi, terus saya mula sering ngajak bicara, terus usia 5 bulan mulai merasakan gerakan-gerakan. Setelah Rausan lahir awalnya saya agak kikuk waktu mengurusnya tapi sekarang sudah tidak, dan suka ngajak ngobrol, menimang, dll.


Cerita Bu Hani (26 tahun):

Saya yang semula kurang suka bicara, sejak usia Reina sudah menginjak bulan dan bisa merespon, saya jadi lebih banyak bicara karena pengalamanku belum terlalu banyak dan rasa takut kenapa-kenapa, jadi saya nggk suka menitipkan Reina ke orang lain kecuali bapaknya, neneknya. Reina lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama jadi lebih tahu kebiasaan kapan waktu Reina mau buang air besar, padahal waktu itu usianya baru menginjak 5 bulan. Dan karena lebih sering diberi pengertian tentang sesuatu hal yang baik dan buruk jadi Reina lebih cepat tangap dan mengerti dan karena saya termasuk ibu yang galak jadi Reina takut tapi suka nurut. Tapi dampaknya Reina labih jadi anak penakut. Tapi sekarang Reina sama seperti anak-anak lain yang senang bermain sesuai dengan usianya. Lain lagi dengan Adel. Adel lebih banyak dengan saudara keluarga dari ayahnya, walaupun Adel termasuk anak yang rewel.


Cerita Bu Yani (24 tahun):

Sejak mengandung setiap saya merasakan ada perubahan pada diri saya, selalu memceritakannya pada suami. Pertama kali saya merasakan gerakan di dalam perut saya ketika suami mengelus-ngelus perut saya seakan-akan bayi dalam perut saya tau kalau ayahnya senang akan kehadirannya. Sejak saat itu setiap pulang kerja suami saya dan suami suka berbicara sambil mengelus-ngelus perut. Setelah anak kami lahir saya dan suami sering bercerita dan mengajak anak bermain. Mengajarkan kata-kata yang mudah diikuti seperti mamah, ayah, mamam, nenen. Karena sekarang anak kami sudah besar sudah banyak yang bisa kami lakukan bersama. Contohnya setiap kami menonton film saya dan suami suka bertanya pada anak suka gak sama filmnya terus siapa tokoh dalam cerita di film itu yang disukainya. Lalu saya akan menyuruh anak saya menceritakan film itu dengan bahasanya yang lucu. Salah satunya lagi ayahnya membiasakan diri setiap mau pergi kerja selalu bepamitan pada anak dengan senangnya anak akan betlari keluar dari rumah mengantar ayahnya sampai depan.


Rabu, 22 Juni 2011

KUMPULAN CERITA IBU-IBU DI BOJONG ASIH (BAGIAN 1)

Cerita Bu Pupung (24 tahun):

Semenjak Rausan punya roda bayi dia senang tidur diluar kalau siang hari. Kalau ditidurin di rumah suka merengek-rengek ga mau, ga betah mungkin karena suasana di rumah agak panas. Terus karena kakeknya ga betah di rumah. Sekarang Rausan sudah mulai bisa merespon kalau diajak bicara.


Cerita Bu Hani (26 tahun):

Adel lebih senang menghabiskan waktu diluar rumah, apalagi kalau ke rumah neneknya. Apalagi kalau menjelang tidur siang suka mencari masalah supaya mamanya marah-marah. Karena kalau di rumah nenek suka dituruti apa yang Adel mau.


Cerita Bu Yani (24 tahun):

Raifan sekarang suka ngompol lagi di celana lebih sering membangkang apa-apa salah, terus rada rewel pokoknya bikin emosi tinggi. Tapi kemampuan berkomunikasinya lebih lancar dia mampu mengunngkapkan perasaannya terus kalau di rumah nenek jadi kolokan, lebih manja dan lebih bermasalah. Kalau pakai baju, sandal, celana atau apapun harus sekehendaknya milih sendiri sudah gak mau diatur.


Senin, 13 Juni 2011

Berbincang-Bincang Dengan Ibu Posyandu Dago Jati

Seharusnya minggu ini adalah pendampingan ibu-ibu Dago Jati memasuki minggu ke – 6.

Tetapi pendampingan pada minggu ini tidak dapat dilakukan karena Ibu-ibu Dago Jati sedang ada acara yang lain. Padahal saya sudah menyiapkan APE (Alat Permainan Edukatif) untuk bermain bersama anak-anak mereka. APE yang sudah saya siapkan yaitu kertas berwarna yang digambar bentuk segi tiga, segi empat dan lingkaran, untuk nanti digunting dan kemudian direkatkan dengan lem sesuai dengan gambar dan bentuk yang sudah disediakan. Melalui permainan ini kita dapat mengenalkan macam-macam bentuk dan juga warna kepada anak-anak. APE ini saya sesuaikan dengan ketentuan APE untuk stimulasi tumbuh kembang anak usia 3-6 tahun.

Berhubung ibu-ibunya dan juga anak-anaknya sedang tidak ada, maka saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju rumah Ibu Posyandu. Ibu Posyandu Dago jati RT 4 ini bernama Ibu Susi, satu RT dengan Ibu Fatma, Ibu Kokom, dan Ibu Nia. Begitu saya sampai ke rumahnya kebetulan Ibu Posyandu sedang ada di rumah. Dan saya pun berbincang-bincang dengannya. Ini lah hasil perbincangan saya dengan Ibu Posyandu Dago Jati RT 4.

Ibu Susi sudah cukup lama aktif di Posyandu, sehingga sudah cukup hapal dengan nama-nama warga terutama ibu-ibu Dago Jati, khususnya yang memiliki balita. Menurut Ibu Susi, jumlah balita di Dago Jati RT 4 ini berjumlah sekitar 75 balita. Diantaranya terdapat sekitar 15 balita berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Jumlah 75 balita ini sudah termasuk jumlah balita dari para mahasiswa yang kuliah sambil membawa anak-anaknya ke tempat kost mereka. Ini pun di data oleh Ibu Susi dengan mendatangi langsung ke rumah-rumah/kost-an mereka. Apabila warga baru atau para mahasiswa ini sudah melakukan kewajibannya yaitu melapor ke RT, maka pasti langsung di data oleh Posyandu. Adapun kalau ada warga baru atau para mahasiswa yang memiliki balita tapi tidak terdata oleh Posyandu, biasanya karena mereka belum lapor ke RT setempat.

Pelayanan yang diberikan di Posyandu diantaranya penimbangan, pengukuran tinggi badan, imuinisasi yang diberikan oleh Dokter yang datang ke Posyandu, serta pemberian makanan bergizi, dan pemberian vitamin pada waktu-waktu tertentu. Adapun biaya untuk pemberian konsumsi makanan bergizi bagi balita-balita didapatkan dari iuran ibu-ibu yang memiliki balita dan sumbangan dari Hotel Sheraton. Setiap ibu-ibu yang memiliki balita dimintai sumbangannya sebesar Rp.1000 perbulannya. Tetapi Ibu-ibu Posyandu pun tidak terlalu memaksakan, sumbangan ini bagi mereka yang berkenan mau menyumbang saja. Bagi yang tidak menyumbang pun tidak apa-apa dan tidak ada paksaan. Iuran ini selain untuk tambahan biaya konsumsi pemberian makanan bergizi para balita, juga untuk konsumsi Dokter yang datang ke Posyandu dan juga untuk para pengurus Posyandu.

Kegiatan Posyandu ini diadakan sebulan sekali, tiap hari Kamis pagi, jam 9:00. Apabila kegiatan Posyandu ini di adakan, Ibu Susi selalu mengumumkannya di masjid, untuk mengingatkan dan mengajak ibu-ibu yang memiliki balita agar datang ke Posyandu. Posyandu di RW tempat tinggal Ibu Susi ini terbagi dalam 3 sektor. RT 1,2,3 sektor I, RT 4,5,6 sektor II, dan RT 7,8,9 sektor III. Sedangkan Posyandu yang dikelola oleh Ibu Susi ini termasuk sektor II, sebab berada di RT 4.

Ibu Susi ini selain pengurus Posyandu, dia juga sekaligus sebagai guru Paud di Dago Jati. Paud tempat Ibu Susi mengajar ini bernama Paud Nirwana. Paud ini juga sudah cukup lama berdiri, sudah sekitar 7 tahunan. Pada awalnya murid-muridnya banyak, sekitar 100 orang murid, tetapi sekarang muridnya hanya tinggal 45 orang saja. Hal ini disebabkan karena semakin banyaknya berdiri paud-paud baru yang hampir selalu ada di setiap RW. Tetapi murid-murid yang sekolah di Paud Nirwana ini justru kebanyakkan malah dari RW lain dan dari kelurahan yang lain. Sedangkan anak-anak penduduk setempatnya yang sekolah di Paud Nirwana ini hanya 5 orang saja. Menurut Ibu Susi hal ini disebabkan karena sebagian warga ada yang belum sekolah walaupun sudah cukup umur untuk mengikuti sekolah di Paud. Adapun umur anak yang sudah bisa mengikuti sekolah di Paud ini menurut ibu Susi mulai usia 2-6 tahun. Sedangkan sebagian warga ada juga yang memilih sekolah lain yang menurut mereka lebih bagus.

Tenaga pengajar di Paud Nirwana saat ini ada 5 orang guru, salah satunya Ibu Susi. Biaya untuk bersekolah di Paud ini menurut ibu Susi adalah sebesar Rp.20.000 perbulan. Mengenai pembayaran, Ibu Susi pun memberikan keringanan dapat dibayar dengan cara mencicil Rp.5000 perminggu. Bahkan untuk warga yang memang sama sekali tidak mampu tetapi sangat ingin menyekolahkan anak-anaknya di Paud ini, Ibu Susi memberikan keringanan membayar semampunya atau kalau memang tidak mampu sama sekali, tidak bayar pun tidak apa-apa. Sepertinya masih banyak warga kurang mampu yang memiliki anak usia dini tidak mengetahui hal ini. Mungkin karena mereka kurang mengakses informasi, kurangnya bermasyarakat, atau kurangnya pendekatan dengan Ibu-Ibu pengurus Posyandu dan pengurus Paud.

Di RT 4 ini terdapat dua sekolah untuk anak usia dini, yaitu Paud Nirwana dan TPA Nurul Fikri. Hanya saja TPA Nurul Fikri ini lebih menekankan pada belajar Iqra. Biaya sekolah ini sebesar Rp. 50.000 perbulan.

Sarana prasarana di Paud Nirwana ini sudah cukup lengkap, sebab ibu-ibu pengelola Paud Nirwana ini tak pernah ketinggalan untuk terus mengikuti perkembangan materi-materi baru pengembangan anak usia dini di Departemen Pendidikan. Serta terus mengajukan proposal sehingga Paud Nirwana ini sudah cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah serta mendapatkan dana untuk melengkapi sarana prasarana yang masih dibutuhkan atau untuk mengganti sarana prasarana yang sudah rusak.

Demikian catatan pertemuan saya dengan Ibu Susi, salah seorang penggerak Posyandu yang juga menjadi pengajar di PAUD yang ada di kawasan Dago Jati.